Rabu, 04 Desember 2013

"aku, dia, dan ka ben" part 2


Hari ini gue seneng banget,

Hari ini camping!!! Yeahhhh J

Gue akan mendaki bromo 3 hari kedepan! Bersama ka ben dan semua anggota pecinta alam yang semua berjumlah 20 orang. Kami di bagi 2 kelompok, 1 di ketuai oleh bang kia, kelompok 2 di ketuai bang ringgo. Bang kia dan bang ringgo adalah senior yang luar biasa handal, mereka sangat berpenggalaman soal mendaki dan camping  seperti ini, jadi kami tidak perlu terlalu khawatir.

Hari ini, tepat pukul 11.00 kami sampai di kawasan bromo, buset ini yang gue suka. Pemandangan alam itu luar biasanya indahnya. Gue sempat mengabadikan beberapa gambar keindahan bromo dari tempat gue berdiri sekarang. Ka ben memberikan ransel gue yang baru saja di turunkan dari mobil. Lalu dia mengusapkan tangannya di kepala gue “siap untuk petualangan 3 hari kedepan?!” tanyanya lalu memalingkan wajahnya dan langsung memandangi bromo.

Gue berharap ini akan jadi pengalaman tak terlupakan untuk gue. Ini juga camping dan pendakian terakhir buat gue dan ka ben. Karna setelah acara ini ka ben harus kembali focus belajar, karna dia harus menghadapi UN dan test masuk perguruan tinggi.
Lanjut ya,,
sekarang kami mulai berjalan kaki ke arah kaki bromo, di sana nanti kami akan camping. kami berjalan dengan kelompok kami. Kebetulan gue sekelompok sama ka ben dan ajenng.
Perjalanan sangat melelahkan, kami harus berjalan berjam-jam dengan beban di atas punggung kami. Gue dan ka ben berjalan di paling belakang dari barisan, agar tidak ada yang ketinggalan.
Setelah sampai lokasi, kami segera mendirikan camp, gue 1 camp dengan ajeng dan teman kami lili.
saat itu waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Pemandangan sekitar kaki bromo sungguh luar biasa indahnya.

Ka ben menghampiri gue di camp.
“aqila, k sana yuk.” Ajak ka ben. Gue sangat seneng ketika ka ben ngajak gue jalan-jalan, tapi kemudian ajeng berkata “ikut dong” . gue saat itu setuju saja ajeng ikut, karna gue pikir ajeng juga harus menikmati pemandangan indah bromo.
ketika di pertengahan jalan ajeng terjatuh, lalu kakinya keseleo. Gue kaget melihat itu, ka ben yang tadi berjalan di samping gue langsung berlari panic ke arah ajeng. Ka ben memijat-mijat kaki ajeng. Sesekali ajeng teriak kesakitan. Gue melihat sisi ka ben yang sangat peduli.
Ka ben lalu menggendong ajeng ke camp. Manis sekali.
Malam hari selesai doa dan makan. Ajeng kembali beristirahat di camp kami, maklum saja kakinya belum sembuh benar.
Ka ben mengajak gue pergi keluar camp, dia mengajak gue melihat-lihat pemandangan malam di sekitar bromo. Saat itu malah sangat cerah sehingga bintang-bintang bertaburan membuat aku berah berada di luar walau suasana saat itu sangat dingin. Kami berdiri di depan api unggun yang tadi di buat oleh anggota yang lain.

“malem-malem gini keren banget ya di bromo. Ini kedua kalinya aku k sini” kata ka ben
“aku pertama kalinya ke sini.” Jawab gue lalu tersenyum menatap hamparan langit yang indah.
“ini camping terakhir buat kita ya? Sedih rasanya” kata ka ben lalu menunduk
“ia. Tapi aku berharap ini bukan pertemuan terakhir kita” Jawab gue singkat
“aku ga mau ini yang terakhir buat kita. Aku seneng banget bisa kenal sama kamu. Makanya aku sedih banget sebentar lagi aku keluar dari SMA.vreda dan ninggalin kamu” kata ka ben, lalu dia menatap gue
“aku juga,” jawab gue singkat. Dalem hati gue seneng banget ka ben bilang gitu sama gue.
Hari ini pukul 4 dini hari, kami sudah berjalan menembuh embun pagi di kawasan bromo untuk mencapai puncak bromo. Kami semua akan melihat sunrise melalui puncak bromo. Ini pasti seru. Ka ben benjalan di samping gue, dia berjalan sambil merangkul gue yang kedinginan karna embun pagi di kawasan bromo itu sangat dingin.
“semangat aqila.” Kata ka ben menyemangat gue, kami berjalan sambil tangan ka ben tetap merangkul tubuhku yang hampir membeku.

1,5 jam kami berjalan. Akhirnya kami sampai di puncak bromo. Sungguh keindahan yang luar biasa. Kami saling berpelukan. Ka ben mengajak k sisi lain puncak bromo, menjauhi angkota pecinta alam yang lain. Lalu kami duduk berdua, ka ben bilang “perjalanan yang luar biasa ya.  Ini puncak dari segala teori yang kita dapet 6 bulan kemaren. Pencapaian yang luar  biasa.”
“iya aku seneng banget ka. Ga mengecewakan.” Kata gue sebelum ka ben memeluk gue.
“makasih udah jadi anggota tim yang luar biasa!” kata ka ben lalu di lanjutkan sorak sorai anggota lain yang melihat kami berpelukan.
Setelah kami berfoto-foto. Kami lalu segera pulang.
Perjalanan pulang, ka ben bergabung dengan teman-teman yang cowo.
gue dan ajeng jalan bersama,

“gue suka sama ka ben la” tiba-tiba gue mendengar kata-kata yang membuat gue kaget. Gue langsung menoleh ke arah sumber suara,  gue terbengong-bengong ternyata ajeng yang ngomong itu kepada gue. Dunia gue seakan tiba-tiba gelap, air mata seketika menetes membasahi pipi ini.

“gue tau lo sahabat gue, gue tau lo suka sama ka ben lebih dulu. Tapi gue mohon lo ngerti la, maafin gue. Tapi rasa suka ke ka ben tumbuh dengan sendirinya. Rasa suka itu gga bisa di tahan kan. Aqila. Semenjak SMA, gue jarang banget jatuh cinta.tapi semenjak gue deket sama ka ben, gue tau apa itu cinta. Gue minta maaf banget, tapi gue bener-bener sayang ka ben. Gue mohon tolong lo jauhin dia la jauhin dia, gue sahabat lo. Masa lo tega liat gue terus-terusan sakit hati ngeliat lo deket sama ka ben. Ini pertama kalinya gue jatuh cinta di SMA la.” Terang ajeng lalu kemudian menangis. Kita kami berada di barisan paling depan, sehingga tidak ada anggota lain yg melihat gue dan ajeng nangis.

“gu gue,,… gue… “ gue ga sanggup meneruskan kata-kata gue, gue nangis sejadi-jadinya, gue kecewa, sekaligus sedih yang luar biasa. Kenapa ajeng harus bilang kalau dia suka sama ka ben, di saat-saat gue ngerasain suatu kenyamanan yang luar biasa di samping ka ben.

Ketika gue menutup muka gue lalu nangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba ada seseorang merangkul gue, tangisan gue semakin menjadi ketika  rangkulan di punggung gue semakin erat. Gue membuka mata ketika gue melihat bahwa orang yg dari tadi merangkul gue adalah ka ben , gue langsung memeluknya. Ka ben menarik gue ke pinggir, agar anggota lain mendahului kami dan kami berjalan di paling belakang.

Ka ben mengatakan kepada anggota lain bahwa gue sedang sakit sehingga mereka memperbolehkan kami berjalan di paling belakang.
“kamu kenapa?”Tanya ka ben terlihat sangat khawatir. Gue masih terisak-isak.
ka ben masih merangkul gue. “udah udah jangan nangis lagi, aku udah di sini, mau cerita?” kata ka ben.
Sepanjang perjalanan ka ben tidak melepaskan rangkulannya di punggung gue. Dia selalu berusaha berada di samping gue.

"aku, dia, dan ka ben" part 1


   Hai perkenalkan nama gue aqila. Gue kelas 10 di salah satu SMA ternama di kota gue bandung. Gue sekolah di SMA.vreda.
hari ini, udah kira-kira 1 bulan gue di SMA, gue udah punya temen deket di SMA namanya ajeng. Oh ya  hari ini sepulang sekolah gue harus kumpul dulu, hari ini adalah hari pertama ekskul di mulai. Kebetulan di sekolahku ini ada ekskul pecinta alam. Nah ekskul tersebut yang membuat gue memutuskan untuk masuk ke SMA vreda. Gue suka alam bebas, gue  hobbi jalan-jalan ke daerah pegunungan gitu sama keluarga gue. Makanya gue milih ekskul ‘pecinta alam’ ini.
“oke sekarang giliran kamu memperkenakan diri.” Kata guru ekskul kami kepada gue. Nama guru ekskul kami itu abang ringgo.
gue maju ke depan ruang ekskul sambil bersiap memperkenalkan diri.
“selamat siang semuanya, nama saya aqi…..” sebelum sempat melanjutkan memperkenalkan diri,
seorang kaka kelas memasuki ruangan dengan terburu-terburu , bajunya keluar rambutnya berantakan dan terlihat keringat memeuhi pelipisnya.
sebelum sempat mengambil posisi duduk dia langsung melihat ke arah gue yang berdiri di depan ruangan. 
Setelah menyadari kesalahannya dia segera membuka mulutnya
“ups sorry-sorry yah. Bang sorry gue telat juga. Hehe” katanya cengengesan sambil terlihat sedikit ekspresi bersalah. Seluruh ruangan masih memperhatikan kaka kelas itu yang sedang mencari posisi duduk. Sebelum suara bang ringgo menyadarkan kami  “jangan diulang lagi ben. Ayo dik lanjutkan” ucap bang ringgo, gue sekilas melihat ke arah kaka kelas itu kemudian melanjutkan perkenalan.
“nama saya aqila. Kelas 10.2 ,salam kenal buat semuanya” kata gue lancar. Semua anggota ‘pecinta alam’ mengangguk termasuk bang ringgo.

“oke baiklah, karna kita semua udah saling kenal. Sekarang abang mau memperkenalkan ketua ekskul ‘pecinta alam’ di sekolah kita” kata abang ringgo,
Kaka kelas yang tadi datang terlambat, maju ke depan kelas  dia langsung memperkenalkan diri.

“hallo semuanya, Nama gue benedict. Tapi kalian bisa panggil gue ben. Gue ketua pecinta alam yang baru. Gue harap kita bisa jadi tim ekskul yang kompak. Buat anak-anak baru selamat bergabung, dan selamat datang.” Kata ka ben singkat. Lalu disusul sorak-sorai dan tepuk tangan yg meriah.
Ketika bang ringgo sedang menjelaskan tentang ekskul ini.
gue memperhatikan dengan sedikit BT, jelas saja pecinta alam kan lebih enak kalau berhubungan langsung dengan alam, jika di kasih teori sebenarnya itu sangat membosankan. Belum lagi gue hanya duduk sendirian di pojok belakang ruangan, dari kelas 10.2 gue memang cewe sendiri yang ikut ekskul ini. Tidak banyak cewe yang suka dengan ekskul menantang kaya gini. Sahabat gue pun begitu, ajeng lebih memilih ekskul ‘musik’ dari pada ‘pecinta alam’.

Ketika gue lagi bengong gitu, seorang ka ben duduk di samping gue.
gue kaget, dan gue segera membetulkan posisi duduk gue.
Ka ben melihat ke arahku, lalu tersenyum. Hmmm ka ben memiliki senyum yang manis.
dari pertama kali gue ngeliat ka ben, dia memang terlihat keren. Apalagi tadi ketika dia lari-lari memauki ruangan dengan bercucuran keringat.

Ka ben memiliki tubuh yang tinggi, tubuhnya tidak tinggi juga tidak kurus. Kulitnya sawo matang. Rambutnya di potong rapi, dan penampilannya cuek.
“aqila ya? sorry ya tadi” ucap ka ben membuat gue segera tersadar bahwa sedari tadi gue lagi melamunkannya.
“oh, ia ka ga apa-apa” jawab gue singkat.
“kamu, kenapa ikut ekskul ini? Jarang-jarang loh ada cewe ikut ekskul pecinta alam” terang ka ben.
“aku seneng ka. Aku suka pergi ke gunung, terus camping sama ayah ibu” jawab gue sekenanya.
“oohh,, bagus deh. Jadi ga terlalu sulit kamu mendalami materinya nanti” kata ka ben lalu tersenyum.
Gue balas dengan tersenyum.
     4 bulan kemudian….
Semenjaak perkenalan kami pertama kali, gue dan ka ben jadi deket
“udah siap untuk camping  perpisahan bulan februari,3 bulan lagi?” Tanya ka ben di kantin.
“udah dong ka. Hahaha” jawab gue singkat lalu melanjutkan makan.
“aqila aqila” teriak seorang cewek yang berlari-lari ke arah gue dan ka ben. Dan ternyata itu si ajeng sahabat gue di SMA. Ketika dia melihat gue lagi makan bareng ka ben di kantin dia sedikit mengurangi suaranya.
“ups sory, eh ad ka ben” si ajeng langsung melihat ke arah ka ben dengan senyum-senyum.
“hallo ajeng” jawab ka ben lalu membalas senyum ajeng.

Semenjak gue deket sama ka ben, ajeng dan ka ben juga jadi deket. Siapa sih cewe yang ga mau deket sama ka ben, dia keren, badannya bagus dan tinggi, anak 12 IPA otomatis dia pasti pinter, supel lagi.

“ada apaan jeng?” Tanya gue langsung, karna gue sedikit risi dengan senyum ajeng ke ka ben. Ga tau kenapa beberapa hari kemaren ajeng jadi sering ngomongin ka ben, sering senyum-senyum kalau ad aka ben, bahkan 4 hari yang lalu dia daftar di ekskul pecinta alam, katanya sih ingin nemenin gue. Tapi gue pikir pasti gara2 ada ka ben, karna gue tau banget ajeng itu ga suka sama kotor. Gimana bisa dia masuk ekskul yang mengharuskan anggota untuk kotor-kotoran.

“lo tau kan 2 minggu  yang lalu gue daftar ekskul pecinta alam? Dan lo tau sesuatu? GUE KETERIMA!!!” teriak ajeng saking senengnya, gue melihat ketika dia sedang loncat-loncat kesenengan. Dia melirik ke arah ka ben lalu senyum kegirangan.

“wah, gue ikut seneng yah jeng. Selamat selamat!” kata gue ikut seneng.
“selamat bergabung ajeng” ucap ka ben yang semakin membuat ajeng tersenyum gembira.
Gue mulai suka sama ka ben.
Ternyata di balik sifat dinginnya, dia masih memiliki sisi lembut kepada cewe. Dia masih ngehargain cewe, gue seneng banget sama cowo yang bisa ngehargain cewe.
Hari ini rencananya gue dan ka ben akan pergi berbelanja untuk camping yang akan di adakan lusa.
ka ben menjemput gue dengan honda jazz hitamnya.

Sekitar 30 menit di jalan, akhirnya kami sampai juga di mall.
ketika kami mulai tiba di mall ka ben, kelihatan sibuk dengan hpnya. Gue pikir mungkin dia lagi sibuk smsan sama anggota pecinta alam, maklum saja ka ben itu ketua pecinta alam dan kami akan melakukan camping lusa. Gue berjalan menuju lift, ketika di dalam lift ka ben membuka percakapan “nonton yuk.”
Gue menjawab “ayo, tapi selesai belanja ya ka.” ,, ka ben tersenyum dan mengangguk menandakan setuju.
Sepanjang berbelanja tadi ka ben masih tetap sibuk dengan handphone-nya.,
Setelah selesai berbelanja,

 kami menyimpan barang belanjaan ke dalam mobil sebelum melanjutkan nonton. Kebetulan waktu masih menunjukan pukul 15.00, jadi ga akan pulang terlalu larut.
Ketika hampir sampai di bioskop, kami bertemu dengan ajeng di dekat loket. Gue segera menyapa sahabat kesayangan gue itu.

“heh jeng, sendiri aja?” Tanya gue lalu memberikan senyum. Ajeng tidak langsung menjawab pertanyaan gue itu, dia langsung melihat kearah ka ben yang berjalan di belakang gue.
“iya sendiri aja.” Kata ajeng murung.
gue melihat ke arah ka ben, lalu ka ben tersenyum. “mau gabung?” ajak gue ke ajeng.
“MAU BANGETTTT.. ahh thank you aqila. Gue akhirnya ga nonton sendiri.” Jawab ajeng senang.

Gue mengangguk-ngangguk melihat sahabat gue ini kegirangan.
ka ben dan gue meminta ajeng yang memilih film. Ajeng yang biasanya takut banget sama setan, kali ini memilih film horror. Aneh sekali.

Film akan di mulai 10 menit lagi. Gue memutuskan untuk membeli makanan dan soda untuk di makan di dalam bioskop. Ajeng kelihatan sibuk membicarakan acaran camping lusa dengan ka ben, jadi gue memutuskan untuk membeli makanan dan soda untuk kami sendirian.

Gue kaget, ketika gue selesai membeli makanan. Ka ben dan ajeng duduk lebih dekat lagi. Ga tau kenapa hati gue sakit banget, ngeliat ka ben duduk begitu dekat dengan ajeng sahabat gue sendiri. Gue hanya berdiri dengan radius 2 m dari mereka, tapi tak satupun dari mereka yang menyadari kedatangan gue. Sebelum akhirnya ka ben melihat ke arah gue “aqila, ngapain di situ. Sini sini” , ketika ka ben berkata begitu ajeng langsung bergeser dan membetulkan posisi duduknya lagi.

Gue jalan menghampiri mereka “habis liat poster film itu, kayanya rame.” Kata gue berbohong.
“nanti kapan-kapan kita nonton itu yuk:” kata ajeng. Gue hanya tersenyum tanpa sedikitpun menunjukan rasa kecewa, setelah melihat sahabatnya berdekatan dengan cowo gebetannya sendiri.
Film akan segera di mulai,
gue mengambil posisi di tengah-tengah antara ajeng dan ka ben. Ka ben di ujung sebelah kanan, dan ajeng di ujung sebelah kiri.

Film pun segera di mulai, gue melirik ke arah ajeng, dia mulai risih ketakutan maklum ajeng orangnya penakut.
10 menit sudah film di putar lalu ajeng berbisik kepada gue. “la, boleh gue duduk di tempat lo, gue takut banget asli. Lo liatkan bangku sebelah gue kosong.” Kata ajeng sengan nada sedih campur ketakutan.
Gue sebagai seorang sahabat ajeng, ga tega banget kalau udah ngeliat ajeng ketakutan kaya gini.
gue berpindah tempat dengan ajeng, ka ben melihat ke arah gue, “kenapa pindah?” Tanya ka ben. “ajeng takut” jawab gue pindah lalu duduk kembali. Ka ben hanya ber’oh’ ria.

Sepanjang film di puter gue selalu berfikir yang tidak2 tentang ajeng, apa mungkin ajeng suka sama ka ben? Tapi kan ajeng tau kalau gue udah suka sama ka ben duluan. Masa sih ajeng tega sama gue.
Gue berusaha membuang jauh-jauh segala pikiran negative tentang ajeng dan ka ben. Kemudian focus kembali dengan film yang sedang di putar.

Hacim hacim,, terdengar suara bersin di ajeng, “minta tissue dong la” katanya sambil menutup hidungnya. Gue memberikan tissue kepada ajeng, tapi dia terus bersin-bersin. Ka ben yang gue kenal sebagai cowo terbaik lansung memberikan jaketnya kepada ajeng. Gue melihat seulas senyum ajeng  ketika ka ben meminjamkan jaketnya.

Lagi-lagi sakit hati ini, gue membuang jauh-jauh pikiran negative gue. Gue berfikir mungkin memang sebaiknya ka ben meminjamkan jaketnya karna ajeng kan sakit.
Ketika film beres kita langsung segera ke parkiran untuk pulang,
“kenapa murung?” Tanya ka ben kepada gue.
“hah? Gpp kok. Haha” gue berusaha terlihat seceria mungkin di hadapan ka ben.
“ajeng, lo pulang sama siapa?” Tanya gue
“sendiri, naik angkot.” Kata ajeng sambil menutupi hidungnya yang meler
“buset, kamu kan lagi sakit. Bareng kita aja yuk aku kebetulan bawa mobil” kata ka ben ga tega.
Di perjalanan pulang tadi gue BT setengah mati, gue kecewa setengah mati, gue sakit hati setengah mat, ketika di parkiran, gue duduk di depan di samping ka ben seperti biasanya, dan ajeng duduk sendirian di belakang. Tapi ajeng langsung minta tuker posisi dengaan gue, dengan alesan gara-gara tadi nonton film horror dia jadi takut duduk sendirian di belakang. 

Menurut gue itu alesan yang gila, gila banget! Tapi gue menyetujui, karna lagi-lagi gue ga tega sama ajeng. Sepanjang perjalanan ke rumah ajeng, gue berasa kambilng conge. Mereka berdua ngobrol tanpa inget kalau di dalem mobil itu masih ada gue.

 Jadi gue buka twitter aja dari pada BT.
di twitter gue baca ada 1 twit yg membuat gue tertegun beberapa saat isinya.
hati-hati loh sama sahabat kalau nikung presis-nya 99% akurat!
gue seketika langsung ga mood ngapa-ngapain.

Sabtu, 16 November 2013

Surat kaleng :')


Hai,,,
   
    Maaf aku baru berani nyapa kamu sekarang.
selama ini ? aku tidak punyaa cukup banyak keberanian untuk menyapamu seperti ini.
sekarang aku memberanikan diri untuk menyapamu, walau hanya melalui sebuah surat.
Kau tahu,

aku orang yang selama ini selalu memperhatikanmu dalam diam,
Kamu tahu, kita sudah lama kenal. Tapi baru-baru ini aku baru menyadari sesuatu,
bahwa aku menyukai mu..
kamu begitu menarik perhatianku,
apa kamu menyadarinya? Kamu memiliki daya tarik lebih di bandingkan pria lain yang ku temui.

Waktu itu aku melihatmu, bersandar di tembok sambil memainkan gitar milik temanmu.
kamu melantunkan sebuah lagu, dan entah mengapa begitu menarik perhatianku.
Mulai saat itu, aku jadi sering memperhatikanmu.. ya walau dari kejauhan.
aku tidak berani mendekatimu, berdiri dengan jarak yang dekat denganmu saja aku tidak sanggup.
      Kamu suka menyanyi ya? Aku beberapa kali mendengarmu menyanyikan sebuah lagu, dan menurutku suaramu bagus.
Aku suka ketika melihatmu tertawa, terlihat begitu manis.
aku suka ketika kamu bermain futsal
Dengar-dengar kamu lagi suka sama adik kelas ya ?
aku beberapa kali mendengar  teman-temanmu memanggil-manggil nama sesorang wanita cantik yang kupikir dia adalah wanita yang kamu taksir.

Tapi aku sekarang jadi membenci wanita yang kamu taksir itu !
mengapa? Karna dia membuat kamu berubah, sebelum teman-temanmu sering membicarakan tentang wanita itu kamu terlihat selalu ceria, peicicilan (?) , nyanyi, jailin orang.
tapi sekarang?? Entah karna apa, sikapmu perlahan-lahan mulai berubah.
kamu jadi sedikit pendiem, kamu tertawa tapi tidak sebanyak dulu, kesannya tuh sekarang kamu jadi jaim.

Sedih sih pas liat gitu,.
aku ga suka liat kamu jadi jaim gitu, aku lebih suka liat kamu yang biasanya, yang ga jaim..
yang selalu pecicilan, yang gampang ketawa, yang suka nyanyi-nyanyi dimanapun..

_NN_

Senin, 04 November 2013

cinta dalam diam (?) haha


Ini caraku memperhatikannya,
aku pernah mencintai seseorang dalam DIAM.
aku tidak pernah memberi tahu teman-teman ku, bahwa aku sedang mengaggumi dia.
mereka tidak perlu tahu, cukup aku, hatiku, dan Tuhan saja yang tahu J

aku Jatuh cinta padanya,
aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, kami bertemu sudah lama.
dan bahkan kami sudah kenal sejak lama. Tapi entahlah ‘cinta’ di antara kami baru saja tumbuh.

Dunia begitu berubah akhir-akhir ini,
tidak semuanya sih, hanya pada saat aku melihat dia saja,.
Bayangkan saja, kami sudah lama berteman.
tapi baru akhir-akhir ini aku menyadari sesuatu yang lain saat kami berdekatan.
Sulit memang untuk menghindari rasa ini, mematikan perasaan pada seseorang yang kita temui setiap hari. Apalagi mematikan perasaan untuk dia. Sulit sekali rasanya.

Bagiku dia adalah sosok yang sederhana, playboy (?) (tidak, dia tidak playboy, dia hanya punya beberapa teman dekat wanita), dia begitu misterius sulit untuk di tebak.
aku kini begitu detail memperhatikannya, dari mulai cara dia tertawa, cara dia menguap, cara dia menyapa teman-temannya, bahkan aku memperhatikan sampai bagaimana dia menata rambutnya.
ya walau aku memperhatikan semuanya dari kejauhan.

Aku sangat suka ketika dia mulai bermain dengan gitarnya, itu membuatnya jauh lebih tampan.
pada suatu kesempatan,
saat kami sedang bersama dengan beberapa temannya, dia menyanyikan sebuah lagu.
tanpa dia sadari saat itu aku sedang merekam suaranya. Hahaha
dia tidak mempunyai suara yang begitu bagus, bahkan sering kali terdengar fals. Ketika dia fals  yang selalu dia jadikan alasan adalah bahwa dia harus menyesuaikan dengan nada.  Walaupun begitu kenyataannya, aku tidak pernah berhenti memutar rekaman suaranya saat aku sedang bad mood, atau saat aku sedang 
merindukannya,.

Dia kadang terlihat sangat menyebalkan tapi kadang begitu manis dengan segala hal yang dia buat,
dia mengajakku bicara dalam percakapan manis kita di pesan singkat, tanpa dia tahu ketika aku menerima pesan singkatnya aku selalu loncat-loncat bahkan senyum-senyum sendiri di kamar.

Di setiap pertemuanku dengannya itu seperti memberikanku sebuah semangat, entahlah hanya dengan melihatnya saja mood ku yang buruk bisa langsung baik kembali.

Tadi kami bertemu lagi, aku menyapanya. Walau aku sedikit gugup tapi aku tetap melakukannya. Pada saat itu aku hanya berharap dia tidak mendengar detup jantungku yang berdebar tidak normal. -_-
ketika dia menoleh kearahku dia tersenyum manis, ummh SANGAT MANIS lebih tepatnya. Mungkin jika aku adalah ES aku sudah meleleh lalu menguap ke udara saat dia tersenyum begitu manis.
Ya sesederhana itu..   kalau ‘dia’ baca post aku ini
aku cuman mau bilang :
“jangan pernah berhenti tersenyum, kau tidak pernah tahu kan. Kalau senyumanmu itu begitu berarti seseorang”




_maria debrina_